Jumat, 01 April 2011

Penyakit Refluks Gastro Esofageal (PRGE)

Penyakit Refluks Gastro Esofageal (PRGE)

Definisi PRGE/GERD (Refluks Asam)

Penyakit Refluks Gastro Esofageal (PRGE) atau GastroEsophageal Reflux Disease (GERD), umumnya dirujuk sebagai PRGE/GERD atau refluks asam (acid reflux), adalah kondisi dimana isi cairan dari lambung dimuntahkan/dialirkan kembali (refluxes) kedalam esofagus. Cairan dapat meradang dan merusak lapisan (menyebabkan esophagitis) dari esofagus meskipun tanda-tanda peradangan yang terlihat terjadi pada minoritas dari pasien-pasien. Cairan yang dimuntahkan biasanya mengandung asam dan pepsin yang dihasilkan oleh lambung. (Pepsin adalah enzim yang memulai pencernaan dari protein-protein dalam lambung). Cairan yang dialirkan kembali juga mungkin mengandung empedu yang telah membalik kedalam lambung dari duodenum (usus dua belas jari). Duodenum adalah bagian pertama dari usus kecil yang menyambung pada lambung. Asam (acid) dipercayai adalah komponen yang paling berbahaya/melukai dari cairan yang dialirkan kembali. Pepsin dan empedu juga mungkin melukai esofagus, namun peran mereka dalam menghasilkan peradangan dan kerusakan esofagus adalah tidak sejelas peran dari asam.

PRGE/GERD adalah kondisi kronis. Sekali ia mulai, ia biasanya adalah seumur hidup. Jika ada luka pada lapisan esofagus (esophagitis), ini juga adalah kondisi kronis. Lebih dari itu, setelah esofagus telah sembuh dengan perawatan dan perawatan dihentikan, luka akan kembali pada kebanyakan pasien-pasien dalam beberapa bulan. Sekali perawatan untuk PRGE/GERD dimulai, oleh karenanya, ia biasanya akan perlu diteruskan secara tidak terbatas meskipun diperdebatkan bahwa pada beberapa pasien-pasien dengan gejal-gejala yang sebentar-sebentar dan tidak ada esophagitis, perawatan dapat sebentar-sebentar dan dilakukan hanya selama periode-periode simptomatik.

Faktanya, refluks (aliran balik) dari isi-isi yang cair dari lambung kedalam esofagus terjadi pada kebanyakan individu-individu yang normal. Satu studi menemukan bahwa refluks terjadi sama seringnya pada individu-individu normal dan pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD. Pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD, bagaimanapun, cairan yang dialirkan kembali lebih seringkali mengandung asam, dan asam tinggal dalam esofagus lebi lama. Juga telah ditemukan bahwa cairan mengalir kembali ke tingkat yang lebih tinggi dalam esofagus pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD daripada individu-individu normal.

Seperti seringkali kasusnya, tubuh mempunyai cara-cara (mekanisme-mekanisme ) untuk melindungi dirinya dari efek-efek aliran balik dan asam yang membahayakan. Contohnya, kebanyakan refluks (aliran balik) terjadi sepanjang hari ketika individu-individu sedang tegak lurus. Pada posisi tegak lurus, cairan yang dialirkan balik lebih mungkin mengalir balik turun kedalam lambung yang disebabkan oleh efek dari gaya berat. Sebagai tambahan, ketika individu-individu dalam keadaan siaga, mereka menelan secara berulangkali, apakah ada atau tidak ada refluks. Setiap menelan membawa cairan yang dialirkan balik, balik kedalam lambung. Akhirnya, kelenjar-kelenjar air liur dalam mulut menghasilkan air liur, yang mengandung bicarbonate. Dengan setiap menelan, air liur yang mengandung bicarbonate berjalan menuruni esofagus. Bicarbonate menetralkan jumlah yang kecil dari asam yang tertinggal dalam esofagus setelah gaya berat dan menelan telah menghilangkan kebanyakan dari cairan.

Gaya berat, menelan, dan air liur adalah mekanisme pelindung yang penting untuk esofagus, namun mereka efektif hanya ketika individu-individu berada pada posisi tegak lurus. Pada waktu malam hari ketika sedang tidur, gaya berat tidak mempunyai efek, menelan berhenti, dan sekresi dari air liur berkurang. Oleh karenanya, refluks yang terjadi pada malam hari lebih mungkin berakibat pada asam yang tertinggal lebih lama dalam esoagus dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada esofagus.

Kondisi-kondisi tertentu membuat seseorang peka pada PRGE/GERD. Contohnya, PRGE/GERD dapat menjadi persoalan yag serius selama kehamilan. Tingkat-tingkat hormon yang naik dari kehamilan kemungkinan menyebabkan refluks dengan menurunkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah. Pada saat yang bersamaan, fetus yang tumbuh meningkatkan tekanan pada perut. Keduanya dari efek-efek ini diharapkan meningkatkan refluks. Juga, pasien-pasien dengan penyakit-penyakit ini yang melemahkan otot-otot esofagus, seperti scleroderma atau penyakit-penyakit jaringan penghubung yang campuran, adalah lebih mudah untuk mengembangkan PRGE/GERD.

Penyebab PRGE/GERD

Penyebab dari PRGE/GERD adalah kompleks. Mungkin ada berbagai penyebab-penyebab, dan penyebab-penyebab yang berbeda mungkin bekerja pada individu-individu yang berbeda, atau bahkan pada individu yang sama pada waktu-waktu yang berbeda. Sejumlah kecil pasien-pasien dengan PRGE/GERD menghasilkan jumlah-jumlah asam yang besarnya abnormal, namun ini adalah tidak umum dan bukan faktor yang berkontribusi pada mayoritas yang sangat luas dari pasien-pasien. Faktor-faktor yang berkontribusi pada PRGE/GERD adalah sfingter esofagus bagian bawah, hiatal hernias, kontraksi-kontraksi esofagus, dan pengosongan dari lambung.

Sfingter Esofagus Bagian Bawah

Aksi dari sfingter esofagus bagian bawah atau lower esophageal sphincter (LES) mungkin adalah faktor (mekanisme) yang paling penting untuk mencegah refluks (pengaliran balik). Esofagus adalah tabung yang berotot yang memanjang dari tenggorokan bagian bawah ke lambung. LES adalah cincin dari otot yang khusus yang mengelilingi ujung yang paling bawah dari esofagus dimana ia bergabung dengan lambung. Otot yang membentuk LES adalah aktif pada kebanyakan waktu. Ini berarti bahwa ia berkontraksi dan menutup jalan lintas dari esofagus kedalam lambung. Penutupan dari jalan lintas ini mencegah refluks. Ketika makanan atau air liur ditelan, LES mengendur untuk beberapa detik untuk mengizinkan makanan atau air liur untuk lewat dari esofagus kedalam lambung, dan kemudian ia menutup kembali.

Beberapa kelainan-kelainan yang berbeda dari LES telah ditemukan pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD. Dua dari mereka melibatkan fungsi dari LES. Yang pertama adalah kontraksi LES yang lemahnya abnormal, yang mengurangi kemampuannya untuk mencegah refluks. Yang kedua adalah pengendoran-pengendoran (relaksasi-relaksasi) dari LES yang abnormal, yang disebut transient LES relaxations. Mereka adalah abnormal dalam bahwa mereka tidak menyertai menelan dan mereka berlangsung untuk waktu yang lama, sampai ke beberapa menit. Relaksasi-relaksasi yang berkepanjangan ini mengizinkan terjadinya refluks dengan lebih mudah. Transient LES relaxations (relaksasi-relaksasi LES yang sementara) terjadi pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD paling umum setelah makan ketika lambung digelembungkan dengan makanan. Transient LES relaxations juga terjadi pada indivdu-individu tanpa PRGE/GERD, namun mereka jarang.

Kelainan yang paling baru-baru ini digambarkan pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD adalah kelemahan dari LES. Secara spesifik, tekanan-tekanan yang menggelembungkan yang serupa membuka LES lebih besar pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD daripada pada individu-individu tanpa PRGE/GERD. Paling sedikit secara teori, ini akan mengizinkan pembukaan yang lebih mudah dari LES dan/atau aliran balik yang lebih besar dari asam kedalam esofagus ketika LES terbuka.

Hiatal Hernia

Hiatal hernias berkontribusi pada refluks, meskipun cara dimana mereka berkontribusi tidak jelas. Mayoritas dari pasien-pasien dengan PRGE/GERD mempunyai hiatal hernias, namun banyak yang tidak mempunyai. Oleh karenanya, adalah tidak perlu untuk mempunyai hiatal hernia dalam rangka untuk mempunyai PRGE/GERD. Lebih dari itu, banyak orang-orang mempunyai hiatal hernias namun tidak mempunyai PRGE/GERD. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana atau mengapa hiatal hernias berkembang.

Normalnya, LES berlokasi pada tingkat permukaan yang sama dimana esofagus lewat dari dada melalui diafragma dan kedalam perut. Diafrgama adalah sekat horisontal yang berotot yang memisahkan dada dari perut. Ketika disana ada hiatal hernia, bagian kecil dari lambung bagian atas yang menyambung pada esofagus mendorong naik melalui diafragma. Sebagai akibatnya, sebagian kecil dari lambung dan LES terletak di dada, dan LES tidak lagi pada tingkat permukaan dari diafragma.

Nampkanya bahwa diafragma yang mengelilingi LES adalah penting dalam mncegah refluks. Itu adalah, pada individu-individu tanpa hiatal hernias, diafragma yang mengelilingi esofagus berkontraksi terus menerus, namun kemudian mengendur dengan menelan, tepat seperti LES. Catat bahwa efek-efek dari LES dan diafragma terjadi pada lokasi yang sama pada pasien-pasien tanpa hiatal hernias. Oleh karenanya, rintangan pada refluks adalah sama pada jumlah dari tekanan-tekanan yang dihasilkan oleh LES dan diafragma. Ketika LES bergerak kedalam dada dengan hiatal hernia, diafragma dan LES terus menerus menggunakan tekanan-tekanan mereka dan efek rintangan. Bagaimanapun, mereka sekarang lakukan begitu pada lokasi-lokasi yang berbeda. Sebagai konsekwensi, tekanan-tekanan tidak lagi aditip. Sebagai gantinya, rintangan tekanan tinggi yang tunggal pada refluks digantikan oleh dua rintangan-rintangan dari tekanan yang lebih rendah, dan refluks maka terjadi lebih dengan mudah. Jadi, mengurangi rintangan tekanan adalah satu cara yang hiatal hernia dapat kontribusikan pada refluks.

Ada cara kedua dimana hiatal hernias mungkin berkontribusi pada refluks. Ketika hiatal hernia hadir, ada kantong hernial, yang adalah kantong kecil dari lambung diatas diafragma. Kantong terjepit dari esofagus diatas oleh LES dan dari lambung dibawah oleh diafragma. Apa yang penting tentang situasi ini adalah bahwa kantong dapat menjerat asam yang datang dari lambung. Jeratan ini mempertahankan asam dekat pada esofagus. Sebagai akibatnya, adalah lebih mudah untuk asam untuk refluks (mengalir balik) ketika LES mengendor dengan menelan atau relaksasi sementara (transient relaxation).

Akhirnya, ada cara ketiga dimana hiatal hernias mugkin berkontribusi pada refluks. Esofagus normalnya bergabung dengan lambung secara miring, yang berarti tidak lurus atau pada sudut 90 derajat. Disebabkan oleh tempat masuk dengan sudut miring ini, penutup dari jaringan terbentuk antara lambung dan esofagus. Penutup dari jaringan ini dipercayai bekerja seperti katup/klep, menutup esofagus dari lambung dan mencegah refluks. Ketika disana ada hiatal hernia, tempat masuk dari esofagus kedalam lambung ditarik keatas kedalam dada. Oleh karenanya, penutup yang seperti klep menyimpang atau menghilang dan tidak lagi dapat membantu mencegah refluks.

Kontraksi-Kontraksi Esofagus

Seperti disebutkan sebelumnya, menelan adalah penting dalam mengeliminasi asam dalam esofagus. Menelan menyebabkan kontraksi dari otot esofagus yang seperti gelombang cincin, yang menyempitkan lumen (rongga bagian dalam) dari esofagus. Kontraksi, dirujuk sebagai peristalsis, mulai pada esofagus bagian atas dan berjalan ke esofagus bagian bawah. Ia mendorong makanan, air liur, dan apa saja dalam esofagus kedalam lambung.

Ketika gelombang dari kontraksi cacat/tidak sempurna, asam yang dialirkan balik tidak didorong balik kedalam lambung. Pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD, beberapa kelainan-kelainan dari kontraksi telah digambarkan. Contohnya, gelombang-gelombang dari kontraksi mungkin tidak dapat mulai setelah setiap kali menelan atau gelombang-gelombang dari kontraksi mungkin hilang lenyap sebelum mereka mencapai lambung. Juga, tekanan yang dihasilkan oleh kontraksi-kontraksi mungkin terlalu lemah untuk mendorong asam balik kedalam lambung. Kelainan-kelainan semacam ini dari kontraksi, yang mengurangi pembersihan asam dari esofagus, ditemukan seringkali pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD. Faktanya, mereka ditemukan paling sering pada pasien-pasien yang dengan PRGE/GERD yang paling parah. Efek-efek dari kontraksi-kontraksi esofagus yang abnormal akan diharapkan memburuk pada malam hari ketika gaya berat tidak membantu untuk mengembalikan asam yang dialirkan balik kedalam lambung. Catat bahwa merokok pada hakekatnya juga mengurangi pembersihan asam dari esofagus. Efek ini berlanjut untuk paling sedikit 6 jam setelah sigaret terakhir.

Pengosongan Lambung

Kebanyakan refluks-refluks sepanjang hari terjadi setelah makan-makan. Refluks ini kemungkinan disebabkan oleh relaksasi-relaksasi LES sementara yang disebabkan oleh penggelembungan lambung dengan makanan. Minoritas dari pasien-pasien dengan PRGE/GERD, kira-kira 20%, telah ditemukan mempunyai lambung-lambung yang mengosongkan secara perlahannya abnormal setelah makan. Pengosongan lambung yang lebih perlahan memperpanjang penggelembungan lambung dengan makanan setelah makan-makan. Oleh karenanya, pengosongan yang lebih perlahan memperpanjang periode sewaktu mana refluks lebih mungkin terjadi.

Gejala-Gejala Dari PRGE/GERD Yang Tidak Menyulitkan

Gejala-gejala dari PRGE/GERD yang tidak menyulitkan adalah terutama rasa panas/nyeri didada, muntah, dan mual. Gejala-gejala lain terjadi ketika ada komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD dan akan didiskusikan dengan komplikasi-komplikasi.

Rasa Nyeri/Panas Di Dada (Heartburn)

Ketika asam refluks (mengalir balik) kedalam esofagus pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD, serat-serat syaraf pada esofagus distimulasi. Stimulasi syaraf ini berakibat paling umum pada rasa panas/nyeri di dada (heartburn), nyeri yang adalah karakteristik dari PRGE/GERD. Heartburn biasanya digambarkan sebagai nyeri yang membakar ditengah dada. Ia mungkin mulai tinggi diatas perut dan mungkin meluas naik kedalam leher. Pada beberapa pasen-pasien, bagaimanapun, nyerinya mungkin tajam atau seperti tekanan, daripada rasa terbakar. Nyeri jenis ini dapat meniru nyeri jantung (angina). Pada pasien-pasien lain, nyerinya mungkin meluas ke belakang (punggung).

Karena refluks asam adalah lebih umum setelah makan-makan, heartburn adalah lebih umum setelah makan-makan. Heartburn juga adalah lebih umum ketika individu-individu terbaring karena tanpa efek dari gaya berat, refluks terjadi lebih mudah, dan asam balik ke lambung lebih perlahan. Banyak pasien-pasien dengan PRGE/GERD terbangun dari tidur oleh heartburn.

Episode-episode dari heartburn mungkin terjadi seringkali atau jarang, namun episode-episode cenderung untuk terjadi secara periodik. Ini berarti bahwa episode-episode lebih sering atau lebih parah untuk periode dari beberapa minggu atau bulan, dan kemudian mereka menjadi jarang dan kurang parah atau bahkan tidak hadir untuk beberapa minggu atau bulan. Kecenderungan waktu tertentu ini dari gejala-gejala menyediakan dasar pemikiran untuk perawatan yang sebentar-sebentar pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD yang tidak mempunyai esophagitis. Meskipun demikian, heartburn adalah persoalan seumur hidup, dan ia hampir selalu kembali.

Muntah

Muntah adalah penampakan dari cairan yang dialirkan balik dalam mulut. Pada kebanyakan pasien-pasien dengan PRGE/GERD, biasanya hanya kwantitas-kwantitas yang kecil dari cairan memcapai esofagus, dan cairan menetap dalam esofagus bagian bawah. Adakalanya pada beberapa pasien-pasien dengan PRGE/GERD, kwantitas-kwantitas cairan yang lebih besar, adakalanya mengandung makanan, dialirkan balik dan mencapai esofagus bagian atas.

Pada ujung bagian atas dari esofagus adalah sfingter esofagus bagian atas atau upper esophageal sphincter (UES). UES adalah cincin lingkar dari otot yang adalah sangat serupa pada LES dalam kerja-kerjanya. Yaitu, UES mencegah isi-isi esofagus membalik naik kedalam tenggorokan. Ketika jumlah-jumlah kecil dari cairan yang di-refluks (dialirkan balik) dan/atau makanan-makanan menerobs UES dan memasuki tenggorokan, mungkin ada rasa asam dalam mulut. Jika kwantitas-kwantitas yang lebih besar menerobos UES, pasien-pasien mungkin tiba-tiba menemukan mulut-mulut mereka dipenuhi dengan cairan atau makanan. Apa yang lebih, muntah yang seringkali atau berkepanjangan dapat menjurus pada erosi-erosi dari gigi-gigi yang diinduksi asam.

Mual

Mual adalah umum pada PRGE/GERD. Pada beberapa pasien-pasien, bagaimanpun, ia mungkin sering atau parah dan mungkin berakibat pada muntah. Faktanya, pada pasien-pasien dengan mual dan/atau muntah yang tidak dapat dijelaskan, PRGE/GERD adalah satu dari kondisi-kondisi pertama yang dipertimbangkan. Adalah tidak jelas mengapa beberapa pasien-pasien dengan PRGE/GERD mengembangkan terutama rasa panas/nyeri di dada (heartburn) dan yang lain-lain mengembangkan terutama mual.

Komplikasi-Komplikasi PRGE/GERD

Borok-Borok (Ulcers)

Cairan dari lambung yang mengalir balik (refluks) kedalam esofagus merusak sel-sel yang melapisi esofagus. Tubuh merespon dalam cara yang ia biasanya merespon pada kerusakan, yang adalah peradangan (esophagitis). Tujuan dari peradangan adalah untuk menetralkan agen yang merusak dan memulai proses penyembuhan. Jika kerusakannya berjalan dalam kedalam esofagus, borok terbentuk. Borok adalah hanya pecahan pada lapisan esofagus yang terjadi pada area peradangan. Borok-borok dan peradanagn tambahan yang mereka bangkitkan mungkin mengikis kedalam pembuluh-pembuluh darah esofagus dan menimbulkan perdarahan kedalam esofagus.

Adakalanya, perdarahannya parah dan mungkin memerlukan:

* transfusi-transfusi darah,
* prosedur endoskopi (dimana tabung dimasukan melalui mulut kedalam esofagus untuk melihat tempat perdarahan dan untuk menghentikan perdarahan), atau
* perawatan operasi.


Penyempitan-Penyempitan

Borok-borok dari esofagus sembuh dengan pembentukan luka-luka parut (fibrosis). Dengan berjalannya waktu, jaringan parut menyusut dan menyempitkan lumen (rongga dalam) dari esofagus. Penyempitan yang ditinggalkan luka parut ini disebut penyempitan (stricture). Makanan yang ditelan mungkin tersangkut dalam esofagus sekali penyempitan menjadi cukup parah (biasanya ketika ia menyempitkan lumen esofagus ke garis tengah dari 1 cm). Situasi ini mungkin memerlukan pengangkatan makanan yang tersangkut secara endoskopi. Kemudian, untuk mencegah makanan menempel, penyempitan harus diregangkan (diperlebar). Lebih dari itu, untuk mencegah kekambuhan dari penyempitan, refluks juga harus dicegah.

Barrett's esophagus

PRGE/GERD yang sudah berjalan lama dan/atau yang parah menyebabkan perubahan-perubahan pada sel-sel yang melapisi esofagus pada beberapa pasien-pasien. Sel-sel ini adalah bersifat prakanker dan akhirnya menjadi bersifat kanker. Kondisi ini dirujuk sebagai Barrett's esophagus dan terjadi pada kira-kira 10% dari pasien-pasien dengan PRGE/GERD. Tipe dari kanker esofagus yang berhubungan dengan Barrett's esophagus (adenocarcinoma) meningkat dalam frekwensinya. Adalah tidak jelas mengapa beberapa pasien-pasien dengan PRGE/GERD mengembangkan Barrett's esophagus, namun kebanyakan pasien-pasien tidak.

Barrett's esophagus dapat dikenali secara visual pada saat endoskopi dan dikonfirmasikan oleh pemeriksaan mikroskopik dari biopsi-biopsi sel-sel lapisan. Kemudian, pasien-pasien dengan Barrett's esophagus mungkin memerlukan endoskopi-endoskopi pengawasan secara periodik dengan biopsi-biopsi. Tujuan dari pengawasan adalah untuk mendeteksi perubahan-perubahan yang bersifat prakanker sehingga perawatan pencegahan kanker dapat dumulai. Juga dipercayai bahwa pasien-pasien dengan Barrett's esophagus harus menerima perawatan yang maksimum untuk PRGE/GERD untuk mencegah kerusakan lebih jauh pada esofagus. Prosedur-prosedur sedang dipelajari yang mengangkat sel-sel lapisan yang abnormal. Beberapa teknik-teknik endoskopi yang bukan operasi dapat digunakan untuk mengangkat sel-sel. Teknik-teknik ini adalah menarik karena mereka tidak memerlukan operasi; bagaimanapun, ada komplikasi-komplikasi yang terkait, dan keefektifan jangka panjang dari perawatan masih belum ditentukan. Pengangkatan esofagus secara operasi adalah selalu suatu pilihan.

Batuk Dan Asma

Banyak syaraf-syaraf berada pada esofagus bagian bawah. Beberapa dari syaraf-syaraf ini distimulasi oleh asam yang dialirkan balik (refluks), dan stimulasi ini berakibat pada nyeri (biasanya heartburn). Syaraf-syaraf lain yang distimulasi tidak menghasilkan nyeri. Sebagai gantinya, mereka menstimulasi syaraf-syaraf lain yang membangkitkan batuk. Pada cara ini, cairan yang dialirkan balik dapat menyebabkan batuk tanpa pernah mencapai tenggorokan! Dalam cara yang serupa, pengalira balik kedalam esofagus bagian bawah dapat menstimulasi syaraf-syaraf esofagus yang menghubung ke dan dapat menstimulasi syaraf-syaraf yang pergi ke paru-paru. Syaraf-syaraf ini ke paru-paru kemudian dapat menyebabkan tabung-tabung pernapasan yang lebih kecil untuk menyempit, berakibat pada serangan asma.

Jadi, PRGE/GERD adalah penyebab umum dari batuk yang tidak dapat dijelaskan. Meskipun PRGE/GERD juga mungkin adalah penyebab dari asma, adalah lebih mungkin bahwa ia mempercepat serangan-serangan asma pada pasien-pasien yang telah mempunyai asma. Meskipun batuk kronis dan asma adalah penyakit yang umum, adalah tidak jelas sebagaimana sering mereka diperburuk atau disebabkan oleh PRGE/GERD.

Peradangan Tenggorokan Dan Larynx

Jika cairan yang dialirkan balik dapat melewati sfingter esofagus bagian atas, ia dapat memasuki tenggorokan (pharynx) dan bahkan kotak suara (larynx). Peradangan yang diakibatkannya dapat menjurus pada sakit tenggorokan dan keparauan suara. Seperti dengan batuk dan asma, adalah tidak jelas sebagaimana umum PRGE/GERD bertanggung jawab untuk peradangan tenggorokan dan larynx yang jika tidak tidak dapat dijelaskan.

Peradangan Dan Infeksi Paru-Paru

Cairan yang dialirkan balik (refluks) yang melewati larynx dapat memasuki paru-paru. Refluks dari cairan kedalam paru-paru (disebut aspiration) seringkali berakibat pada batuk dan tercekik. Aspiration, bagaimanapun, dapat juga terjadi tanpa menghasilkan gejala-gejala ini. Dengan atau tanpa gejala-gejala ini, aspiration mungkin menjurus pada infeksi paru-paru dan berakibat pada pneumonia. Tipe pneumonia ini adalah persoalan yang serius yang memerlukan perawatan segera. Ketika aspiration tidak disertai oleh gejala-gejala, ia dapat berakibat pada luka parut dari paru-paru yang perlahan dan progresif (pulmonary fibrosis) yang dapa terlihat pada x-rays dada. Aspiration lebih mungkin terjadi pada malam hari karena itulah ketika proses-proses (mekanisme-mekanisme) yang melindungi terhadapa refluks tidak aktif dan refleks batuk yang melindungi paru-paru juga tidak aktif.

Cairan Dalam Sinus-Sinus Dan Telinga-Telinga Tengah

Tenggorokan berhubungan dengan jalan-jalan lintasan hidung. Pada anak-anak kecil, dua potongan kecil dari jaringan limfa, yang disebut adenoid-adenoid, berlokasi dimana bagian atas dari tenggorokan bergabung dengan jalan-jalan lintasan hidung. Jalan-jalan lintasan dari sinus-sinus dan tabung-tabung dari telinga-telinga tengah (Eustachian tubes) terbuka kedalam belakang dari jalan-jalan lintasan hidung dekat adenoid-adenoid. Cairan yang dialirkan balik yang memasuki tenggorokan bagian atas dapat meradang adenoid-adenoid dan menyebabkan mereka untuk membengkak. Adenoid-adenoid kemudian dapat menghalangi jalan-jalan lintasan dari sinus-sinus dan tabung-tabung Eustachian. Ketika sinus-sinus dan telinga-telinga tengah tertutup dari jalan-jalan lintasan hidung oleh pembengkakan dari adenoids, cairan berakumulasi didalam mereka. Akumulasi cairan ini dapat menjurus pada ketidaknyamanan pada sinus-sinus dan telinga-telinga. Karena adenoid-adenoid menonjol pada anak-anak muda, dan tidak pada kaum dewasa, akumulasi cairan ini dalam telinga-telinga dan sinus-sinus terlihat pada anak-anak dan tidak pada kaum dewasa.


Mendiagnosa Dan Mengevaluasi PRGE/GERD

Gejala-Gejala Dan Respon Pada Perawatan (Percobaan Therapeutic)

Cara yang biasa PRE/GERD didiagnosa — atau paling sedikit dicurigai — adalah dengan gejala-gejala karakteristiknya, heartburn (rasa panas/nyeri di dada). Heartburn paling sering digambarkan sebagai perasaan terbakar dari sub-sternal (dibawah bagian tengah dada) yang terjadi setelah makan-makan dan seringkali memburuk ketika berbaring (terlentang). Untuk mengkonfirmasi diagnosis, dokter-dokter sering merawat pasien-pasien dengan obat-obat untuk menekan produksi asam oleh lambung. Jika heartburn kemudian berkurang banyak, diagnosis dari PRGE/GERD dipertimbangkan sebagai konfirmasi. Pendekatan membuat diagnosis ini pada basis dari respon gejala-gejala pada perawatan umumnya disebut percobaan therapeutic.

Ada persoalan-persoalan dengan pendekatan ini, bagaimanapun, terutama karena ia tidak memasukan/meliputi tes-tes diagnostik. Misalnya, pasien-pasien yang mempunyai kondisi-kondisi yang dapat meniru PRGE/GERD, terutama borok-borok atau ulkus-ulkus duodenum atau lambung, juga dapat sebenarnya merespon pada perawatan sepert ini. Pada situasi ini, jika dokter mengasumsikan bahwa persoalannya adalah PRGE/GERD, ia tidak akan mencari penyebab dari penyekit borok (ulkus). Contohnya, tipe dari infeksi yang disebut Helicobacter pylori, atau obat-obat anti-peradangan nonsteroid (contohnya, ibuprofen), dapat juga menyebabkan borok-borok dan kondisi-kondisi ini akan dirawat secara berbeda dari PRGE/GERD.

Lebih dari itu, seperti dengan segala perawatan, mungkin ada 20% efek placebo, yang berarti bahwa 20% dari pasien-pasien akan merespon pada pil placebo (tidak aktif) atau, tentu saja, pada perawatan apa saja. Ini berarti bahwa 20% dari pasien-pasien yang mempunyai sebab-sebab dari gejala-gejala mereka lain daripada PRGE/GERD (atau borok-borok) akan mempunyai pengurangan pada gejala-gejala mereka setelah menerima perawatan untuk PRGE/GERD. Jadi, pada basis dari respon mereka pada perawatan (percobaan therapeutic), pasien-pasien ini kemudian akan terus menerus dirawat untuk PRGE/GERD, meskipun mereka tidak mempunyai PRGE/GERD. Apa yang lebih, penyebab yang benar dari gejala-gejala mereka tidak akan dikejar lebih jauh.

Endoskopi

Endoskopi pencernaan bagian atas (juga dikenal sebagai esophago-gastro-duodenoscopy atau EGD) adalah cara yang umum mendiagnosa PRGE/GERD. EGD adalah prosedur dimana tabung yang mengandung sistim optik untuk visualisasi (penglihatan) ditelan. Ketika tabung maju menuruni saluran pencernaan, lapisan dari esofagus, lambung, dan duodenum dapat diperiksa.

Esofagus dari kebanyakan pasien-pasien dengan gejala-gejala refluks terlihat normal. Oleh karenanya, pada kebanyakan pasien-pasien, endoskopi tidak akan membantu dalam diagnosis dari PRGE/GERD. Bagaimanapun, adakalanya lapisan esofagus nampak meradang (esophagitis). Lebih dari itu, jika erosi-erosi (pecahan-pecahan yang dangkal dari lapisan esofagus) atau borok-borok (pecahan-pecahan yang lebih dalam pada lapisan) terlihat, diagnosis PRGE/GERD dapat dibuat meyakinkan. Endoskopi akan juga mengidentifikasi beberapa komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD, terutama, borok-borok (ulcers), strictures (penyempitan-penyempitan), dan Barrett's esophagus. Biopsi-biopsi juga mungkin diperoleh.

Akhirnya, persoalan-persoalan umum lain yang mungkin menyebabkan gejala-gejala seperti PRGE/GERD dapat didiagnosa (contohnya borok-borok, peradangan, atau kanker-kanker dari lambung atau duodenum).

Biopsi-Biopsi

Biopsi-biopsi dari esofagus yang diperoleh melalui endoskopi tidak dipertimbangkan sangat bermanfaat untuk mendiagnosa PRGE/GERD. Mereka bermanfaat, bagaimanapun, dalam mendiagnosa kanker-kanker atau penyebab-penyebab peradangan esofagus lain daripada refluks asam, terutama infeksi-infeksi. Lebih dari itu, biopsi-biopsi adalah satu-satunya alat mendiagnosa perubahan-perubahan sel dari Barrett's esophagus. Lebih baru-baru ini, telah disarankan bahwa bahkan pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD yang esofagusnya terlhat normal pada mata, biopsi-biopsi akan menunjukan pelebaran dari ruang-ruang antara sel-sel lapisan, kemungkinan indikasi dari kerusakan. Terlalu dini untuk menyimpulkan, bagaimanapun, bahwa melihat pelebaran adalah cukup spesifik untu menyimpulkan secara meyakinkan bahwa PRGE/GERD hadir.

X-rays

Sebelum pengenalan endoskopi, x-ray dari esofagus (disebut esophagram) adalah satu-satunya alat mendiagnosa PRGE/GERD. Pasien-pasien menelan barium (material kontras), dan x-rays dari esofagus yang diisi dengan barium kemudian diambil. Persoalan dengan esophagram adalah bahwa ia adalah tes yang tidak sensitif (peka) untuk mendiagnosa PRGE/GERD. Yaitu, ia gagal untuk menemukan tanda-tanda dari PRGE/GERD pada banyak pasien-pasien yang mempunyai PRGE/GERD karena pasien-pasien mempunyai sedikit atau tidak ada kerusakan pada lapisan esofagus. X-rays mampu untuk menunjukan hanya komplikasi-komplikasi PRGE/GERD yang jarang, contohnya, borok-borok dan penyempitan-penyempitan. X-rays telah ditinggalkan sebagai alat-alat mendiagnosa PRGE/GERD, meskipun mereka masih dapat bermanfaat bersama dengan endoskopi dalam mengevaluasi komplikasi-komplikas.

Pemeriksaan Tenggorokan Dan Larynx

Ketika PRGE/GERD mempengaruhi tenggorokan atau larynx dan menyebabkan gejala-gejala batuk, keparauan, atau sakit tenggorokan, pasien-pasien sering mengunjungi spesialis THT (tenggorokan, hidung dan telinga). Spesialis THT seringkali menemukan tanda-tanda peradangan dari tenggorokan atau larynx. Meskipun penyakit-penyakit tenggorokan atau larynx biasanya adalah penyebab peradangan, adakalanya PRGE/GERD dapat menjadi penyebabnya. Sesuai dengannya, spesialis-spesialis THT sering mencoba perawatan yang menekan asam untuk mengkonfirmasikan diagnosis dari PRGE/GERD. Pendekatan ini, bagaimanapun, mempunyai persoalan yang sama yang, seperti didiskusikan diatas, berakibat dari menggunakan respon pada perawatan untuk mengkonfirmasi PRGE/GERD.

Pengujian Asam Esofagus

Esophageal acid testing is considered a "gold standard" for diagnosing GERD. As discussed previously, the reflux of acid is common in the general population. However, patients with the symptoms or complications of GERD have reflux of more acid than individuals without the symptoms or complications of GERD. Moreover, normal individuals and patients with GERD can be distinguished moderately well from each other by the amount of time that the esophagus contains acid.

The amount of time that the esophagus contains acid is determined by a test called a 24-hour esophageal pH test. (pH is a mathematical way of expressing the amount of acidity.) For this test, a small tube (catheter) is passed through the nose and positioned in the esophagus. On the tip of the catheter is a sensor that senses acid. The other end of the catheter exits from the nose, wraps back over the ear, and travels down to the waist, where it is attached to a recorder. Each time acid refluxes back into the esophagus from the stomach, it stimulates the sensor and the recorder records the episode of reflux. After a 20 to 24 hour period of time, the catheter is removed and the record of reflux from the recorder is analyzed.

There are problems with using pH testing for diagnosing GERD. Despite the fact that normal individuals and patients with GERD can be separated fairly well on the basis of pH studies, the separation is not perfect. Therefore, some patients with GERD will have normal amounts of acid reflux and some patients without GERD will have abnormal amounts of acid reflux. It requires something other than the pH test to confirm the presence of GERD, for example, typical symptoms, response to treatment, or the presence of complications of GERD. GERD also may be confidently diagnosed when episodes of heartburn correlate with acid reflux as shown by acid testing.

pH testing has uses in the management of GERD other than just diagnosing GERD. For example, the test can help determine why GERD symptoms do not respond to treatment. Perhaps 10 to 20 percent of patients will not have their symptoms substantially improved by treatment for GERD. This lack of response to treatment could be caused by ineffective treatment. This means that the medication is not adequately suppressing the production of acid by the stomach and is not reducing acid reflux. Alternatively, the lack of response can be explained by a wrong diagnosis of GERD. In both of these situations, the pH test can be very useful. If testing reveals substantial reflux of acid while medication is continued, then the treatment is ineffective and will need to be changed. If testing reveals good acid suppression with minimal reflux of acid, the diagnosis of GERD is likely to be wrong and other causes for the symptoms need to be sought.

pH testing also can be used to help evaluate whether reflux is the cause of symptoms (usually heartburn). To make this evaluation, while the 24-hour ph testing is being done, patients record each time they have symptoms. Then, when the test is being analyzed, it can be determined whether or not acid reflux occurred at the time of the symptoms. If reflux did occur at the same time as the symptoms, then reflux is likely to be the cause of the symptoms. If there was no reflux at the time of symptoms, then reflux is unlikely to be the cause of the symptoms.

Lastly, pH testing can be used to evaluate patients prior to endoscopic or surgical treatment for GERD. As discussed above, some 20% of patients will have a decrease in their symptoms even though they don't have GERD (the placebo effect). Prior to endoscopic or surgical treatment, it is important to identify these patients because they are not likely to benefit from the treatments. The pH study can be used to identify these patients because they will have normal amounts of acid reflux.

A newer method for prolonged measurement (48 hours) of acid exposure in the esophagus utilizes a small, wireless capsule that is attached to the esophagus just above the LES. The capsule is passed to the lower esophagus by a tube inserted through either the mouth or the nose. After the capsule is attached to the esophagus, the tube is removed. The capsule measures the acid refluxing into the esophagus and transmits this information to a receiver that is worn at the waist. After the study, usually after 48 hours, the information from the receiver is downloaded into a computer and analyzed. The capsule falls off of the esophagus after 3-5 days and is passed in the stool. (The capsule is not reused.)

The advantage of the capsule over standard pH testing is that there is no discomfort from a catheter that passes through the throat and nose. Moreover, with the capsule, patients look normal (they don't have a catheter protruding from their noses) and are more likely to go about their daily activities, for example, go to work, without feeling self-conscious. Because the capsule records for a longer period than the catheter (48 versus 24 hours), more data on acid reflux and symptoms are obtained. Nevertheless, it is not clear whether obtaining additional information is important.

Capsule pH testing is expensive. Sometimes the capsule does not attach to the esophagus or falls off prematurely. For periods of time the receiver may not receive signals from the capsule, and some of the information about reflux of acid may be lost. Occasionally there is pain with swallowing after the capsule has been placed. Use of the capsule is an exciting use of new technology although it has its own specific problems.

Pengujian Motilitas (Kemampuan Gerakan) Esofagus

Esophageal motility testing determines how well the muscles of the esophagus are working. For motility testing, a thin tube (catheter) is passed through a nostril, down the back of the throat, and into the esophagus. On the part of the catheter that is inside the esophagus are sensors that sense pressure. A pressure is generated within the esophagus that is detected by the sensors on the catheter when the muscle of the esophagus contracts. The end of the catheter that protrudes from the nostril is attached to a recorder that records the pressure. During the test, the pressure at rest and the relaxation of the lower esophageal sphincter are evaluated. The patient then swallows sips of water to evaluate the contractions of the esophagus.

Esophageal motility testing has two important uses in evaluating GERD. The first is in evaluating symptoms that do not respond to treatment for GERD. The abnormal function of the esophageal muscle sometimes causes symptoms that resemble the symptoms of GERD. Motility testing can identify some of these abnormalities and lead to a diagnosis of an esophageal motility disorder. The second use is evaluation prior to surgical or endoscopic treatment for GERD. In this situation, the purpose is to identify patients who also have motility disorders of the esophageal muscle. The reason for this is that in patients with motility disorders, some surgeons will modify the type of surgery they perform for GERD.

Studi-Studi Pengosongan Lambung

Gastric emptying studies are studies that determine how well food empties from the stomach. As discussed above, about 20 % of patients with GERD have slow emptying of the stomach that may be contributing to the reflux of acid. For gastric emptying studies, the patient eats a meal that is labeled with a radioactive substance. A sensor that is similar to a Geiger counter is placed over the stomach to measure how quickly the radioactive substance in the meal empties from the stomach.

Information from the emptying study can be useful for managing patients with GERD. For example, if a patient with GERD continues to have symptoms despite treatment with the usual medications, doctors might prescribe other medications that speed-up emptying of the stomach. Alternatively, in conjunction with GERD surgery, they might do a surgical procedure that promotes a more rapid emptying of the stomach. Nevertheless, it is still debated whether a finding of reduced gastric emptying should prompt changes in the surgical treatment of GERD.

Symptoms of nausea, vomiting, and regurgitation may be due either to abnormal gastric emptying or GERD. An evaluation of gastric emptying, therefore, may be useful in identifying patients whose symptoms are due to abnormal emptying of the stomach rather than to GERD.

Tes Penuangan Asam

Tes penuangan asam (Bernstein) digunakan untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan oleh refluks asam. Untuk tes ini, tabung kecil dimasukan melalui satu lubang hidung, menuruni belakang tenggorokan, dan kedalam bagian tengah dari esofagus. Larutan asam yang diencerkan dan larutan garam normal dituangkan secara bergantian melalui kateter dan kedalam esofagus. Pasien tidak sadar larutan mana yang sedang di-infuskan. Jika penuangan dengan asam membangkitkan nyeri pasien yang biasa dan penuangan dari larutan garam tidak menghasilkan nyeri, kemungkinan adalah bahwa nyeri pasien disebabkan oleh refluks asam.

Tes penuangan asam, bagaimanapun, digunakan hanya secara jarang sekali. Tes yang lebih baik untuk menghubungkan nyeri dan refluks asam adalah studi 24 jam pH esofagus atau kapsul pH dimana selama tes ini pasien-pasien mencatat ketika mereka mempunyai neri. Kemudian dapat ditentukan dari rekaman pH jika ada episode refluks asam pada saat nyeri. Ini adalah cara yang disukai dalam memutuskan apakah refluks asam menyebabkan nyeri pasien. Ia tidak bekerja baik, bagaimanapun, untuk pasien-pasien yang mempunyai nyeri yang jarang, contohnya setiap dua-tiga hari, yang mungkin luput (tidak tertangkap) oleh studi pH satu atau dua hari. Pada kasus-kasu ini, tes penuangan asam mungkin adalah layak/pantas.


Merawat PRGE/GERD

Perubahan-Perubahan Gaya Hidup

Salah satu dari perawatan-perawatan yang paling sederhana untuk PRGE/GERD dirujuk sebagai perubahan-perubahan gaya hidup, kombinasi dari beberapa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, terutama yang berhubungan dengan makan.

Seperti didiskusikan diatas, refluks asam adalah lebih berbahaya pada malam hari daripada pada waktu siang hari. Pada malam hari, ketika individu-individu berbaring terlentang, refluks lebih mudah terjadi. Penyebab dari lebih mudah terjadi adalah karena gaya berat tidak melawan refluks, seperti yang ia lakukan pada posisi tegak lurus sewaktu siang hari. Sebagai tambahan, kekurangan dari efek gaya berat mengizinkan cairan yang dialirkan balik berjalan lebih jauh keatas esofagus dan menetap dalam esofagus lebih lama. Persoalan-persoalan ini dapat diatasi sebagian dengan menaikan tubuh bagian atas dalam ranjang. Kenaikan dilakukan dengan menempatkan balok-balok dibawah kaki-kaki ranjang pada kepala ranjang atau, lebih nyaman, dengan tidur dengan tubuh bagian atas diatas baji (wedge). Maneuver-maneuver ini menaikan esofagus diatas lambung dan secara parsial memulihkan efek-efek gaya berat. Adalah penting bahwa tubuh bagian atas dan bukan hanya kepala yang dinaikan. Menaikan hanya kepala tidak mengangkat esofagus dan gagal untuk memulihkan efek-efek gaya berat.

Pengangkatan tubuh bagian atas pada malam hari umumnya direkomendasikan untuk semua pasien-pasien dengan PRGE/GERD. Meskipun demikian, kebanyakan pasien-pasien dengan PRGE/GERD mempunyai refluks hanya pada siang hari dan pengangkatan pada malam hari hampir tidak bermanfaat untuk mereka. Adalah tidak mungkin untuk mengetahui dengan pasti pasien-pasien yang mana akan mendapat manfaat dari pengangkatan waktu malam hari kecuali pengujian asam dengan jelas menunjukan refluks malam hari. Bagaimanapun, pasien-paien yang mempunyai heartburn, muntah, atau gejala-gejala lain dari PRGE/GERD pada malam hari mungkin mengalami refluks pada malam hari dan secara definitif harus menggunakan pengangkatan tubuh bagian atas. Refluks juga terjadi kurang sering ketika pasien-pasien berbaring pada sisi kirinya daripada pada sisi kanannya.

Beberapa perubahan-perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan makan dapat bermanfaat dalam merawat PRGE/GERD. Refluks memburuk setelah makan-makan. Ini mungkin begitu karena lambung digelembungkan dengan makanan pada saat itu dan relaksasi-relaksasi sementara dari sfingter esofagus bagian bawah adalah lebih sering. Oleh karenanya, makan-makan yang lebih sedikit dan nakan malam lebih dini mungkin mengurangi jumlah refluks untuk dua sebab-sebab. Pertama, makanan yang lebih sedikit berakibat pada kurangnya penggelembungan lambung. Kedua, pada saat tidur, makanan yang lebih sedikit dan lebih awal lebih mungkin telah dikosongkan dari lambung daripada makanan yang lebih banyak. Sebagai akibatnya, refluks lebih tidak mungkin terjadi ketika pasien-pasien dengan PRGE/GERD berbaring.

Makanan-makanan tertentu diketahui mengurangi tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah dan dengan demikian memajukan refluks. Makanan-makanan harus dihindari dan termasuk:

* coklat,
* peppermint,
* alkohol, dan
* minuman-minuman yang ber-kafein.

Makanan-makanan berlemak (yang harus dikurangi) dan merokok (yang harus dihentikan) juga mengurangi tekanan pada sfingter dan memajukan refluks.

Sebagai tambahan, pasien-pasien dengan PRGE/GERD mungkin menemukan bahwa makanan-makanan lain memperburuk gejala-gejala mereka. Contoh-contohnya adalah makanan-makanan pedas atau yang mengandung asam, seperti juice-juice jeruk, minuman-minuman bersoda, dan juice tomat. Makanan-makanan ini juga harus dihindari.

Satu pendekatan baru pada perawatan dari PRGE/GERD adalah mengunyah permen karet. Mengunyah permen karet menstimulasi produksi yang lebih banyak dari air liur yang mengandung bicarbonate dan meningkatkan kecepatan menelan. Setelah air liur ditelan, ia menetralkan asam dalam esofagus. Pada efeknya, mengunyah permen karet membesar-besarkan salah satu dari proses-proses normal yang menetralkan asam dalam esofagus. Adalah tidak jelas, bagaimanapun, seberapa efektifnya mengunyah permen karet sebenarnya dalam merawat heartburn. Meskipun demikian, mengunyah permen karet setelah makan-makan secara pasti adalah berharga untuk dicoba.

Antacid-Antacid

Meskipun dengan perkembangan dari obat-obat yang berpotensi untuk perawatan PRGE/GERD, antacid-antacid tetap sebagai arus utama perawatan. Antacid-antacid menetralkan asam dalam lambung sehingga tidak ada asam yang dialirkan balik (refluks). Persoalan dengan antacid-antacid adalah bahwa aksi mereka adalah singkat. Mereka dikosongkan dari lambung yang kosong dengan cepat, dalam waktu kurang dari satu jam, dan asam kemudian berakumulasi kembali. Cara terbaik untuk meminum antacid-antacid, oleh karenanya, adalah kira-ira satu jam setelah makan-makan atau tepat sebelum gejala-gejala dari refluks mulai setelah makan. Karena makanan dari makan-makan memperlambat pengosongan dari lambung, antacid yang diminum setelah makan berdiam dalam lambung lebih lama dan efektif lebih lama. Untuk sebab yang sama, dosis kedua dari antacid-antacid kira-kira dua jam setelah makan mengambil keuntungan dari pengosongan lambung yang terus menerus yang lebih perlahan setelah makan dan mengisi kapasitas penetralan asam didalam lambung.

Antacid-antacid mungkin berbasis aluminum, magnesium, atau calcium. Antacid-antacid berbasis Calcium (biasanya calcium carbonate), tidak seperti antacid-antacid lain, menstimulasi pelepasan gastrin dari lambung dan duodenum. Gastrin adalah hormon yang terutama bertanggung jawab untuk stimulasi pengeluaran (sekresi) asam oleh lambung. Oleh karenanya, sekresi asam melambung setelah efek langsung penetralan asam dari calcium carbonate habis. Pelambungan disebabkan oleh pelepasan gastrin, yang berakibat pada produksi asam yang berlebihan. Secara teori paling sedikit, peningkatan asam ini tidak baik untuk PRGE/GERD.

Pelambungan asam, bagaimanapun, telah tidak menunjukan kepentingannya secara klinik. Yaitu, perawatan dengan calcium carbonate telah tidak ditunjukan kurang efektif atau aman daripada perawatan dengan antacid-antacid yang tidak mengandung calcium carbonate. Meskipun demikiaan, fenomena dari pelambungan asam secara teori berbahaya. Pada prakteknya, oleh karenanya, antasid-antasid yang mengandung calcium semacam Tums dan Rolaids tidak direkomendasikan. Penggunaan yang adakalanya dari antacid-antacid yang mengandung calcium carbonate ini, bagaimanapun, tidak dipercayai membahayakan. Keuntungan-keuntungan dari antacid-antacid yang mengandung calcium carbonate adalah biaya murah mereka , calcium yang mereka tambahkan pada diet, dan kenyamanan-kenyamanan mereka dibanding pada cairan-cairan.

Antacid-antacid yang mengandung aluminum mempunyai kecenderungan menyebabkan sembelit, sementara antacid-antacid yang mengandung magnesium cencerung menyebabkan diare. Jika diare atau sembelit menjadi persoalan, mungkin adalah perlu untuk merubah antacid-antacid atau secara bergantian menggunakan antacid-antacid yang mengandung aluminum dan magnesium.

Histamine antagonists

Meskipun antacid-antacid dapat menetralkan asam, mereka lakukan begitu hanya untuk periode waktu yang singkat. Untuk penetralan asam secara substansiil sepanjang hari, antacid-antacid akan perlu diberikan seringkali, paling sedikit setiap jam.

Obat pertama yang dikembangkan untuk perawatan yang lebih efektif dan nyaman dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan asam, termasuk PRGE/GERD, adalah histamine antagonist, terutama cimetidine (Tagamet). Histamine adalah kimia yang penting karena ia menstimulasi produksi asam oleh lambung. Dilepas didalam dinding lambung, histamine melekat pada reseptor-reseptor pada sel-sel yang menghasilkan asam lambung dan menstimulasi sel-sel untuk menghasilkan asam. Histamine antagonists bekerja dengan menghalangi reseptor histamine dan dengan demikian mencegah histamine menstimulasi sel-sel penghasil asam. Histamine antagonists dirujuk sebagai H2 antagonists karena reseptor spesifik yang mereka halangi adalah reseptor histamine tipe 2.

Karena histamine adalah terutama penting untuk stimulasi asam setelah makan-makan, H2 antagonists paling baik diminum 30 menit sebelum makan-makan. Sebab untuk pemilihan waktu ini adalah supaya H2 antagonists akan berada pada tingkat-tingkat puncaknya dalam tubuh setelah makan ketika lambung dengan aktif menghasilkan asam. H2 antagonists juga dapat diminum pada waktu tidur untuk menekan produksi asam waktu malam hari.

H2 antagonists adalah sangat bagus untuk menghilangkan gejala-gejala PRGE/GERD, terutama heartburn. Bagaimanapun, mereka tidak sangat bagus untuk penyembuhan peradangan (esophagitis) yang mungkin menyertai PRGE/GERD. Sesungguhnya, mereka digunakan terutama untuk perawatan heartburn pada PRGE/GERD yang tidak berhubungan dengan peradangan atau komplikasi-komplikasi, seperti erosi-erosi atau borok-borok, strictures (penyempitan-penyempitan), atau Barrett's esophagus.

Empat H2 antagonists berbeda tersedia dengan resep, termasuk cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), nizatidine (Axid), dan famotidine, (Pepcid). Keempat-empatnya semua juga tersedia tanpa resep atau over-the-counter (OTC). Bagaimanapun, dosis-dosis OTC adalah lebih rendah daripada yang tersedia dengan resep.

Penghambat-Penghambat Pompa Proton (Proton pump inhibitors)

Tipe obat kedua yang dikembangkan secara spesifik untuk penyakit-penyakt yang berhubungan dengan asam, seperti PRGE/GERD, adalah proton pump inhibitor (PPI), secara spesifik, omeprazole (Prilosec). PPI menghalangi pengeluaran (sekresi) asam kedalam lambung oleh sel-sel yang mengsekresikan asam. Keuntungan dari PPI atas H2 antagonist adalah bahwa PPI menutup produksi asam lebih dengan sepenuhnya dan untuk periode waktu yang lebih panjang. Tidak hanya PPI baik untuk merawat gejala-gejala heartburn, namun ia juga baik untuk melindungi esofagus dari asam sehingga peradangan esofagus dapat sembuh.

PPIs digunakan ketika H2 antagonists tidak menghilangkan cukup gejala-gejala atau ketika komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD seperti erosi-erosi atau borok-borok, penyempitan-penyempitan (strictures), atau Barrett's esophagus hadir. Lima PPIs berbeda disetujui untuk perawatan PRGE/GERD, termasuk omeprazole (Prilosec), lansoprazole (Prevacid), rabeprazole (Aciphex), pantoprazole (Protonix), dan esomeprazole (Nexium). Produk PPI kelima berisi kombinasi dari omeprazole dan sodium bicarbonate (Zegerid). PPIs (kecuali untuk Zegarid) paling baik diminum satu jam sebelum makan-makan. Sebab untuk pemilihan waktu ini adalah bahwa PPIs bekerja paling baik ketika lambung paling aktif menghasilkan asam, yang terjadi setelah makan-makan. Jika PPI diminum sebelum makan, ia berada pada tingkat-tingkat puncaknya dalam tubuh setelah makan ketika asam sedang dibuat.

Obat-Obat Pro-Motilitas (Pro-Kemampuan Bergerak)

Obat-obat Pro-Motilitas bekerja dengan menstimulasi otot-otot saluran pencernaan, termasuk esofagus, lambung, usus kecil, dan/atau usus besar. Satu obat pro-motilitas, metoclopramide (Reglan), disetujui untuk PRGE/GERD. Obat-obat pro-motilitas meningkatkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah dan memperkuat kontraksi-kontraksi (peristalsis) dari esofagus. Kedua efek-efek akan diharapkan mengurangi refluks asam. Bagaimanapun, efek-efek ini pada sfingter dan esofagus adalah kecil. Oleh karenanya, dipercayai bahwa efek utama dari metoclopramide mungkin adalah mempercepat pengosongan lambung, yang juga akan diharapkan mengurangi refluks.

Obat-obat pro-motilitas adalah paling efektif ketika diminum 30 menit sebelum makan-makan dan sekali lagi pada saat tidur. Mereka tidak sangat efektif untuk merawat gejala-gejala atau komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD. Oleh karenanya, agen-agen pro-motilitas dicadangkan untuk pasien-pasien yang tidak merespon pada perawatan-perawatan lain atau ditambahkan untuk meningkatkan perawatan-perawatan lain untuk PRGE/GERD.

Rintangan-Rintangan Busa

Rintangan-Rintangan Busa menyediakan bentuk perawatan yang unik untuk PRGE/GERD. Rintangan-rintangan busa adalah tablet-tablet yang tersusun dari antacid dan agen yang membusa. Ketika tablet mengurai dan mencapai lambung, ia berubah kedalam busa yang mengapung di puncak dari isi-isi cairan dari lambung. Busa membentuk rintangan fisik pada refluks (aliran balik) cairan. Pada saat yang sama, antacid yang terikat pada busa menetralkan asam yang mengadakan kontak dengan busa. Tablet-tablet paling baik diminum setelah makan-makan (ketika lambung digelembungkan) dan ketika berbaring, kedua waktu ketika refluks lebih mungkin terjadi. Rintangan-rintangan busa tidak seringkali digunakan sebagai perawatan pertama atau satu-satunya untuk PRGE/GERD. Agaknya, mereka ditambahkan pada obat-obat lain untuk PRGE/GERD ketika obat-obat lain tidak cukup efektif dalam menghilangkan gejala-gejala. Hanya ada satu rintangan busa, yang adalah kombinasi dari aluminum hydroxide gel, magnesium trisilicate, dan alginate (Gaviscon).

Operasi

Obat-obat yang digambarkan diatas biasanya efektif dalam merawat gejala-gejala dan komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD. Meskipun demikian, adakalanya mereka tidak efektif. Contohnya, meskipun dengan penekanan asam yang cukup dan pembebasan dari heartburn, muntah, dengan potensi-potensinya untuk komplilkasi-komplikasi dalam paru-paru, mungkin masih terjadi. Lebih dari itu, jumlah-jumlah dan/atau angka-angka dari obat-obat yang diperlukan untuk perawatan yang memuaskan adakalanya begitu besar sehingga perawatan obat adalah tidak layak. Pada situasi-situasi semaca ini, operasi dapat secara efektif menghentikan refluks.

Prosedur operasi yang dilakukan untuk mencegah refluks secara teknik dikenal sebagai fundoplication dan disebut operasi refluks atau operasi anti-refluks. Sewaktu fundoplication, segala kantong hiatal hernial ditarik kebawah diafragma dan dijahit disana. Sebagai tambahan, bukaan (opening) pada diafragma yang melaluinya esofagus lewat diperketat sekitar esofagus. Akhirnya, bagian atas dari lambung yang berdekatan pada bukaan dari esofagus kedalam lambung dibungkus sekitar esofagus bagian bawah untuk membuat sfingter esofagus bagian bawah tiruan. Semua dari operasi ini dapat dilakukan melalui sayatan pada perut (laparotomy) atau menggunakan teknik yang disebut laparoscopy. Sewaktu laparoscopy, alat penglihat kecil dan alat-alat operasi dimasukan melalui beberapa tempat-tempat tusukan yang kecil pada perut. Prosedur ini menghindari keperluan untuk sayatan perut yang besar.

Operasi adalah sangat efektif dalam menghilangkan gejala-gejala dan merawat komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD. Kira-kira 80% dari pasien-pasien akan mempunyai pembebasan yang baik dari gejala-gejala mereka untuk paling sedikit 5 sampai 10 tahun. Meskipun demikian, banyak pasien-pasien yang telah mempunyai operasi — mungkin sebanyak setengah — akan terus menerus meminum obat untuk refluks. Adalah tidak jelas apakah mereka meminum obat-obat karena mereka terus menerus mempunyai refluks dan gejala-gejala refluks atau mereka meminumnya untuk gejala-gejala yang sedang disebabkan oleh persoalan-persoalan yang lain daripada PRGE/GERD. Komplikasi yang paling umum dari fundoplication adalah menelan makanan yang menempel pada sfingter tiruan. Untungnya, penempelan biasanya adalah sementara. Jika itu bukan sementara, perawatan endoskopi untuk meregangkan (melebarkan) sfingter tiruan biasanya akan menghilangkan persoalan. Hanya adakalanya perlu untuk operasi kembali untuk merevisi operasi sebelumnya.

Endoskopi

Sangat baru-baru ini, teknik-teknik endoskopip untuk perawatan PRGE/GERD telah dikembangkan dan diuji. Satu tipe dari perawatan endoskopik melibatkan penjahitan area dari sfingter esofagus bagian bawah, yang pada dasarnya memperketat sfingter.

Tipe kedua melibatkan aplikasi dari gelombang-gelombang frekwensi radio pada bagian bawah dari esofagus tepat diatas sfingter. Gelombang-gelombang menyebabkan kerusakan pada jaringan dibawah lapisan esofagus dan bekas luka atau parut (fibrosis) terbentuk. Bekas luka menyusut dan menarik jaringan sekitarnya, dengan demikian memperketat sfingter dan area diatasnya.

Tipe ketiga dari perawatan endoskopik melibatkan suntikan dari material-material kedalam dinding esofagus pada area dari LES. Material yang disuntikan dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan pada LES dan dengan demikian mencegah refluks. Pada satu perawatan material yang disuntikan adalah polymer. Sayangnya, penyuntikan dari polymer menjurus pada komplikasi-komplikasi yang serius, dan material untuk suntikan tidak lagi tersedia. Perawatan yang lain melibatkan suntikan dari pellet-pellet yang dapat mengembang juga telah dihentikan. Informasi yang terbatas tersedia tentang tipe ketiga dari suntikan yang menggunakan gelatinous polymethylmethacrylate microspheres.

Perawatan endoskopik mempunyai keuntungan-keuntungan dari tidak memerlukan operasi. Ia dapat dilakukan tanpa opnama dirumah sakit. Pengalaman dengan teknik-teknik endoskopik terbatas. Adalah tidak jelas seberapa efektif mereka, terutama jangka panjang. Karena keefektifan dan tingkat sepenuhnya dari potensi komplikasi-komplikasi dari teknik-teknik endoskopik tidak jelas, dirasakan umumnya bahwa perawatan endoskopik harus hanya dilakukan sebagai bagian dari percobaan-percobaan eksperimental.

Pencegahan Relaksasi LES Sementara

Relaksasi-relaksasi LES sementara nampaknya menjadi cara yang paling umum dimana refluks asam tejadi. Meskipun tersedia obat-obat yang mencegah relaksasi-relaksasi, mereka mempunyai terlalu banyak efek-efek sampingan untuk bermanfaat secara keseluruhan. Banyak perhatian sedang diarahkan pada perkembangan dari obat-obat yang mencegah relaksasi-relaksasi ini tanpa penyertaan efek-efek sampingan.

Pendekatan Yang Layak Pada Manajemen Dari PRGE/GERD

Ada beberapa cara-cara untuk mendekati evaluasi dan manajemen dari PRGE/GERD. Pendekatan tergantung terutama pada frekwensi dan keparahan dari gejala-gejala, kecukupan dari respon pada perawatan, dan kehadiran dari komplikasi-komplikasi.

Untuk heartburn yang jarang, gejala yang paling umum dari PRGE/GERD, perubahan-perubahan gaya hidup dan antacid yang adakalanya mungkin adalah semua yang diperlukan. Jika heartburn adalah seringkali, H2 antagonists harian yang tidak diresepkan mungkin diperlukan. Rintangan busa juga dapat digunakan dengan antacid atau H2 antagonist.

Jika perubahan-perubahan gaya hidup dan antacid-antacid, H2 antagonists yang tidak diresepkan, dan rintangan busa tidak secara cukup menghilangkan heartburn, adalah waktunya untuk mengunjungi seorang dokter untuk evaluasi lebih jauh dan untuk mempertimbangkan obat-obat yang berkekuatan resep. Evaluasi oleh dokter harus termasuk penilaian untuk kemungkinan komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD berdasarkan pada kehadiran gejala-gejala atau penemuan-penemuan seperti:

* batuk,
* asma,
* keparauan suara,
* luka tenggorokan,
* kesulitan menelan,
* infeksi paru yang tidak dapat dijelaskan, atau
* anemia (disebabkan oleh perdarahan dari peradangan atau pemborokan esofagus).

Petunjuk-petunjuk pada kehadiran penyakit-penyakit yang mungkin meniru PRGE/GERD, seperti borok-borok lambung atau duodenum dan kekacauan-kekacauan motilitas esofagus, harus dicari.

Jika tidak ada gejala-gejala atau tanda-tanda dari komplikasi-komplikasi dan tidak ada kecurigaan dari penyakit-penyakit lain, percobaan therapeutic dari penekanan asam denagn H2 antagonists seringkali digunakan. Jika H2 antagonists tidak cukup efektif, percobaan kedua, dengan PPIs yang lebih kuat, dapat diberikan. Adakalanya, percobaan dari perawatan mulai dengan PPI dan H2 antagonist dilewati. Jika perawatan menghilangkan gejala-gejala sepenuhnya, mungkin tidak perlu ada evaluasi lebih jauh dan obat yang efektif, H2 antagonist atau PPI, diteruskan. Seperti didiskusian sebelumnya, bagaimanapun, ada persoalan-persoalan yang potensial dengan pendekatan yang digunakan secara umum ini, dan beberapa dokter-dokter akan merekomendasikan evaluasi yang lebih jauh untuk hampir semua pasien-pasien yang mereka rawat.

Jika pada saat evaluasi, ada gejala-gejala atau tanda-tanda yang menyarankan PRGE/GERD yang menyulitkan atau penyakit lain dari PRGE/GERD atau jika pembebasan dari gejala-gejala dengan H2 antagonists atau PPIs tidak memuaskan, evaluasi lebih jauh dengan endoskopi (EGD) dengan pasti harus dilakukan.

Ada beberapa kemungkinan hasil-hasil dari endoskopi dan setiapnya memerlukan pedeketan yang berbeda pada perawatan. Jika esofagusnya normal dan tidak ada penyakit-penyakit lainnya ditemukan, tujuan dari perawatan adalah hanya membebaskan gejala-gejala. Oleh karenanya, meresepkan H2 antagonists atau PPIs yang kuat adalah tepat. Jika kerusakan pada esofagus (esophagitis atau pemborokan) ditemukan, tujuan dari perawatan adalah menyembuhkan kerusakan. Pada ksus ini, PPIs lebih disukai daripada H2 antagonists karena mereka lebih efektif untuk penyembuhan.

Jika komplikasi-komplikasi dari PRGE/GERD, seperti penyempitan atau Barrett's esophagus ditemukan, perawatan dengan PPIs juga adalah lebih tepat. Bagaimanapun, kecukupan dari perawatan PPI kemungkinan harus dievaluasi dengan studi pH 24 jam selama perawatan dengan PPI. Dengan PPIs, meskipun jumlah refluks asam mungkin cukup dikurangi untuk mengontrol gejala-gejala, ia mungkin masih tingginya abnormal. Oleh karenanya, menghakimi kecukupan dari penekanan refluks asam dengan hanya respon dari gejala-gejala pada perawatan adalah tidak memuaskan. Penyempitan-penyempitan mungkin juga perlu dirawat dengan pelebaran dari penyempitan esofagus secara endoskopik. Dengan Barrett's esophagus, pemeriksaan endoskopik periodik harus dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang belum membahayakan pada esofagus.

Jika gejala-gejala dari PRGE/GERD tidak merespon pada dosis maksimum dari PPI, ada dua pilihan untuk manajemen. Yang pertama adalah melakukan pengujian pH 24 jam untuk menentukan apakah PPI tidak efektif atau jika penyakit yang lain dari PRGE/GERD kemungkinan hadir. Jika PPI tidak efektif, dosis PPI yang lebih tinggi mungkin dicoba. Pilihan kedua adalah berjalan terus tanpa pengujian pH 24 jam dan meningkatkan dosis PPI. Alternatif lain adalah menambahkan obat lain pada PPI yang bekerja dalam cara yang berbeda dari PPI, contohnya, obat pro-motilitas atau rintangan busa. Jika perlu, semuanya dari tiga tipe obat-obat dapat digunakan. Jika tidak ada respon yang memuaskan pada perawatan yang maksimal ini, pengujian pH 24 jam harus dilakukan.

Siapa harus mempertimbangkan operasi atau, mungkin, percobaan perawatan endoskopik untuk PRGE/GERD? Seperti disebutkan sebelumnya, keefektifan dari perawatan-perawatan endoskopik yang baru-baru ini dikembangkan tetap masih harus ditentukan. Pasien-pasien harus mempertimbangka operasi jika mereka mempunyai regurgitasi (muntah) yang tidak dapat dikontrol dengan obat-obat. Rekomendasi ini terutama penting jika regurgitasi (muntah) berakibat pada infeksi-infeksi pada paru-paru atau terjadi pada malam hari ketika aspirasi (penghisapan) kedalam paru-paru adalah lebih mungkin. Pasien-pasien juga harus mempertimbangkan operasi jika mereka memerlukan dosis-dosis yang tinggi dari PPI atau beragam obat-obat untuk mengontrol refluks mereka. Masih diperdebatkan apakah keinginan untuk bebas dari keperluan meminum obat-obat seumur hidup untuk mencegah gejala-gejala dari PRGE/GERD adalah sebab yang memuaskan untuk mempunyai operasi atau tidak.

Beberapa dokter-dokter — terutama ahli-ahli bedah — merekomendasikan bahwa semua pasien-pasien dengan Barrett's esophagus harus menjalankan operasi. Rekomendasi ini berdasarkan pada kepercayaan bahwa operasi adalah lebih efektif daripad perawatan dengan obat-obat dalam mencegah keduanya refluks dan perubahan-perubahan yang bersifat kanker pada esofagus. Tidak ada studi-studi, bagaimanapun, yang menunjukan keunggulan dari operasi atas obat-obat untuk perawatan PRGE/GERD dan komplikasi-komplikasinya. Lebih dari itu, keefektifan dari perawatan obat dapat dimonitor dengan pengujian pH 24 jam.

Persoalan-Persoalan Yang Tidak Terselesaikan Pada PRGE/GERD

Mekanisme Dari Heartburn Dan Kerusakan

Satu hal yang belum terselesaikan pada PRGE/GERD adalah hubungan-hubungan yang tidak konsisten diantara reflus asam, heartburn, dan kerusakan pada lapisan esofagus (esophagitis dan komplikasi-komplikasi).

1. Mengapa hanya sedikit dari banyak episode-episode refluks asam yang terjadi pada pasien-pasien dengan PRGE/GERD menyebabkan heartburn ?
2. Mengapa beberapa pasien-pasien dengan peningkatan refluks asam yang ringan mengembangkan heartburn, sementyara pasien-pasien yang lain dengan jumlah refluks asam yang sama tidak ?
3. Mengapa heartburn biasanya terjadi pada esofagus yang tidak mempunyai kerusakan yang terlihat ?
4. Mengapa beberapa pasien-pasien dengan lebih banyak kerusakan pada esofagus mempunyai lebih sedikit heartburn daripada pasien-pasien dengan tidak ada kerusakan ?
5. Apakah heartburn tidak berhubungan dengan peradangan namun agaknya pada penyerapan asam diseluruh lapisan esofagus melalui ruang-ruang yang diperlebar antara sel-sel lapisan ?

Dengan jelas, kita harus banyak belajar tentang hubungan-hubungan antara refluks asam dan kerusakan esofagus, dan tentang proses-proses (mekanisme-mekanisme) yang bertanggung jawab untuk heartburn. Persoalan ini adalah lebih daripada perhatian yang dilewatkan. Pengetahuan dari mekanisme-mekanisme yang menghasilkan heartburn dan kerusakan esofagus menaikan kemungkinan dari perawatan-perawatan baru yang akan mentargetkan proses-proses selain dari refluks asam.

Salah satu dari teori-teori yang lebih menarik yang telah diusulkan untuk menjelaskan beberapa dari pertanyaan-pertanyaan ini melibatkan sebab untuk nyeri ketika asam dialirkan balik. Seringkali diasumsikan bahwa nyeri disebabkan oleh asam yang mengiritasi mengadakan kontak dengan lapisan esofagus yang meradang. Namun lapisan esofagus biasanya tidak meradang. Adalah mungkin oleh karenanya bahwa asam menstimulasi syaraf nyeri didalam dinding esofagus tepat dibawah lapisan. Meskipun ini mungkin adalah kasusnya, penjelasan kedua didukung oleh kerja dari sekelompok ilmuwan-ilmuwan. Ilmuwan-ilmuwan ini menemukan bahwa heartburn yang diprovokasi oleh asam dalam esofagus berhubungan dengan kontraksi otot pada esofagus bagian bawah. Mungkin itu adalah kontraksi otot yang entah bagaimana menjurus pada nyeri. Adalah juga mungkin, bagaimanapun , bahwa kontraksi adalah epiphenomenon, yaitu, refluks asam menstimulasi syaraf-syaraf nyeri dan menyebabkan otot untuk berkontraksi, namun itu bukanlah kontraksi yang menyebabkan nyeri. Lebih banyak studi-studi akan diperlukan sebelum mekanisme-mekanisme yang tepat yang menyebabkan heartburn jelas.

Manajemen Dari Barrett's Esophagus

Hanya 10% dari pasien-pasien dengan PRG/GERD mempunyai Barrett's esophagus. Beberapa dokter-dokter telah menyarankan bahwa semua pasien-pasien dengan PRGE/GERD harus disaring dengan endoskopi untuk kehadiran dari Barrett's. Kemudian, jika mereka mempunyai Barrett's, mereka dapat menjalani pengawasan endoskopik secara teratur untuk perkembangan dari kanker. Untuk kebanyakan dokter-dokter, bagaimanapun, penyaringan semua pasien-pasien dengan PRGE/GERD tampaknya tidak layak karena itu akan memerlukan peningkatan yang sangat besar dalam biaya perawatan unutk pasien-pasien dengan PRGE/GERD.

Satu studi menyarankan bahwa kanker dari esofagus berkembang lebih sering pada pasien-pasien yang telah mempunyai heartburn lebih seringkali dan/atau untuk periode waktu yang panjang. Sesuai dengannya, mungkin penyaringan untuk Barrett's esophagus adalah realistik hanya untuk pasien-pasien PRGE/GERD yang dengan heartburn yang seringkali dan berkepanjangan. Bagaimanapun, studi-studi harus menunjukan nilai dari pendekatan ini.

Pengawasan periodik untuk kanker direkomendasikan pada pasien-pasien dengan Barrett's esophagus. Namun, mungkin ada peran untuk perawatan-perawatan lain. Contohnya, karena refluks dipercayai adalah penyebab dari Barrett's esophagus, adalah mungkin bahwa perawatan yang dini dan agresif dari PRGE/GERD (eliminasi dari hampir semua refluks) akan mencegah kemajuan dari Barrett's esophagus ke kanker. Additionally, newer experimental endoscopic techniques that destroy the Barrett's cells (for example, laser or electrocautery) also may prevent the progression to cancer. Studies are needed in Barrett's to evaluate both the aggressive therapy of GERD and the destructive therapy of Barrett's for the prevention of esophageal cancer.

Meskipun Barrett's esophagus dengan jelas adalah kondisi pra-kanker, hanya sebagian kecil dari pasien-pasien dengan Barrett's esophagus akan mengembangkan kanker. Lebih dari itu, pengawasan endoskopik periodik untuk kanker adalah mahal dan setiap endoskopi menempatkan pasien pada risiko yang sedikit untuk komplikasi-komplikasi dari endoskopi. Jadi, penyelidik-penyelidik sedang mencari jalan-jalan yang lebih baik untuk menentukan pasien-pasien yang mana dengan Barrett's adalah lebih mungkin mengembangkan kanker dan memerlukan lebih sering pengawasan endoskopik dan pasien-pasien yang mana jarang memerlukan pengawasan atau, mungkin tidak perlu pengawasan. Sesuai dengannya, mereka sedang mengevaluasi teknik-teknik baru (contohnya, analisa dari sel-sel DNA) untuk menguji lebih mendetil sel-sel yang telah berubah pada esofagus dari pasien-pasien dengan Barrett's. Dalam cara ini, penyelidik-penyelidik sedang mencoba untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan sel yang dapat memprediksi perkembangan kanker di kemudian hari.

Perawatan standar untuk kanker-kanker dini pada Barrett's esophagus adalah pengangkatan secara operasi dari bagian esofagus (esophagectomy). Ini adalah operasi besar. Bagaimanpun, beberapa prosedur-prosedur eksperimental yang tidak memerlukan operasi sedang dievaluasi untuk merawat kanker-kanker dini. Contohnya, terapi fotodinamik adalah prosedur dimana kanker-kanker dihancurkan dengan cahaya setelah mereka telah dibuat peka pada cahaya oleh suntikan intravena dari kimia-kimia yang peka cahaya. Prosedur yang lain secara endoskopik memotong keluar lapisan dari esofagus yang dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dari Barrett's.

Kepentingan Dari Refluks Bukan Asam

Refluks asam secara jelas adalah berbahaya pada esofagus. Bagaimana tentang refluks bukan asam ? Seperti didiskusikan sebelumnya, ada agen-agen yang berpotensi membahayakan yang dapat dialirkan balik selain daripada asam, contohnya, empedu. Pengujian asam esofagus secara akurat mengidentifikasi refluks asam dan telah menjadi sangat bermanfaat dalam mempelajari efek-efek asam yang berbahaya. Sampai dengan baru-baru ini adalah tidak mungkin atau sulit untuk secara akurat mengidentifikasi refluks bukan asam dan, oleh karenanya, untuk mempelajari apakah refluks bukan asam berbahaya atau tidak atau dapat menyebabkan gejala-gejala.

Teknologi baru mengizinkan penentuan yang akurat dari refluks bukan asam. Teknologi ini menggunakan pengukuran dari perubahan-perubahan impedansi didalam esofagus untuk mengidentifikasi refluks cairan, apakah itu asam atau bukan asam. Dengan menggabungkan pengukuran dari impedansi dan pH adalah mungkin untuk mengidentifikasi refluks dan untuk memberitahukan apakah refluks adalah asam atau bukan asam. Adalah terlalu dini untuk mengetahui seberapa pentingnya refluks bukan asam dalam menyebabkan kerusakan esofagus, gejala-gejala, atau komplikasi-komplikasi, namun ada sedikit keraguan bahwa teknologi baru ini akan mampu untuk menyelesaikan hal-hal yang mengelilingi refluks bukan asam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar